Tauhid Sebelum Ibadah

Selepas dzuhur, saya mengambil handphoneku dan lansung menekan icon aplikasi bergambar radio. Lalu kupilih channel 93,8. Selama di Surabaya, saya mendengarkan Radio Suara Muslim Surabaya, selain channel yang lain. Ketika itu, tak asing kuddengar kajian sedag diputar di channel itu. Suara seorang ustadz muda dari Yogyakarta, Salim A. Fillah. Beliau memberikan materi tentang parenting. Saya lupa sebetulnya ada dua hal penting sebelum kita belajar parenting dari Luqman Al Hakim. Karena saya mendengarkan tidak dari awal jadi saya akan ambil kesimpulannya. Bila kita ingin belajar parenting, hendaknya kita merujuk ke Alquran. Allah telah menceritakan kisah Luqman yang berwasiat kepada anaknya. Mulai dari ajaran untuk bertauhid, tidak menyekutukan Allah, lalu hal-hal penting lainnya yang termaktub dalam Surat Luqman. Tapi yang akan saya garis bawahi di sini adalah, Tauhid dan Muroqobah sebelum Ibadah dan Akhlak. Saya juga pernah mendengar bahwa yang baik adalah Iman sebelum Alquran. Apa maksud semua itu? Kita bahas satu persatu.
Tauhid dan Muroqobatullah adalah salah satu pondasi awal yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita, sedini mungkin. Pengenalan terhadap penciptanya, terhadap satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi, satu-satunya yang telah memberikan kita sempurnyanya badan ini, dan juga rasa Muroqobatullah, yakni rasa selalu dilihat oleh Allah. Kita kenalkan bagaimana setiap amalan kita akan disaksikan oleh Allah dan akan dicatat baik buruk ataupun baik.
Kata beliau, “Pak, Bu’, sering kali kita salah dalam mendidik anak-anak kita. Kita sangat kenceng menuntut anak kita untuk sholat padahal umurnya masih 5 tahun ke bawah. Bahkan ada yang umur 2 tahun sudah dibelikan mukena, sarung dan alat sholat lainnya. Tapi pernahkan kita mengenalkan Robb kita terhadap anak-anak kita, pernahkah kita menanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak-anak kita? Pernahkah kita bilang, “Nak, ini lho nak dua bola matamu yang sangat indah ini, seperti dua buah bola yang dimasukkan ke lubang wajah, dan dengan keduanya kita bisa memandang seluruh indahnya dunia ini nak, ini semua yang menciptakan Allah nak.” Pernahkan sesekali kita bilang, “Nak kita bernapas dengan apa nak? Udara, oksigen. Nah coba kalau kita bernapas, oksigen itu masuk ke paru-paru kita lalu jantung bergerak memompa darah, kira-kira siapa yang bisa menjadikan semua itu bekerja nak? Allah nak. Tuhan kita, Ilah kita.” Pernahkah kita mengajak ngobrol anak-anak kita seperti itu pak, bu’? jujur, jadi Ibu harus bisa cerewet, harus sering ngajak ngobrol anak-anaknya. Apalagi di masa-masa emas. Kita itu kebanyakan salah, sampai keras terhadap anak masalah sholat. Padahal coba kita lihat sabda Nabi pak, buk, kita diperintahkan untuk menyuruh anak-anak kita sholat ketika mereka berumur 7 tahun pak, buk. Bukan umur 4 tahun disuruh sholat kalau nggak sholat dihukum. Bukan ketika anak kecil bercanda ketika sholat lalu kita marah-marahi “Nak, sholat itu ibadah, nggak boleh bercanda” sampai kita bentak-bentak. Kira-kira anak kecil rame ketika sholat dosa nggak pak bu’? Jawabnya nggak. Yang nganggu (anaknya) nggak dosa, yang diganggu (orang tuanya) juga nggak dosa. Coba kita lihat Hasan/Husain ketika sewaktu kecil diajak Rasul ke masjid. Lalu Rasul menjadi Imam sholat. Ketika sujud lama sekali, sampai-sampai para sahabat berpikiran tidak-tidak terhadap Rasulullah. Lalu ketika selesai sholat Rasul menjelaskan bahwa tadi cucunya bermain kuda-kudaan di atas punggungnya sewaktu sujud dan beliau tak membiarkannya turun sampai ia puas lalu sampai ia turun sendiri.
Lihat pak buk, Rasul nggak marah, bahkan Rasul membiarkan cucunya bermain. Nah, beberapa waktu lalu, ada yang datang ke tempat kami, anaknya sudah besar tidak mau sholat. Lalu ketika ditelurusi ketika kecil ibunya sering memarahinya ketika ia sholat sambil bercanda. Ternyata sang anak trauma semenjak kecil karena sering dimarahi ibunya karena sholatnya sambil bercanda. Nah, trus kayak gini gimana pak? Coba lihat sabda nabi tadi, umur 7 baru diperintahkan anak kita untuk sholat, bukan umur 5 tahun apalagi tiga, dua tahun. Kurikulum kita selama ini salah pak, buk. Trus dari umur 0 sampai 7 tahun apa yang diajarkan? Ya tadi, tauhid. Itu yang utama, lalu muroqobatullah. Itu jenjang belajarnya, jadi ibadah itu baru dikenalkan umur tujuh tahun pak, buk. Jadi jangan terlalu keras terhadap anak usia 7 tahun ke bawah masalah sholat.
Begitu kira-kira penjelasan beliau. Beliau juga menjelaskan bahwa betapa Rasulullah adalah seorang yang penyayang terhadap anak-anak. Beliau suka bermain dengan anak-anak. Bermain tantangan siapa yang dapat mengejarku akan diberi hadiah kepada cucunya, abdullah bin umar, dan anak sahabat lainnya ketika masih kecil. Padahal zaman dulu, orang laki-laki dewasa kok akrab dengan anak kecil bagi orang Arab itu adalah hal yang tabu. Tapi tidak bagi Rasulullah, ia juga ingin mengajarkan kepada umatnya bagaimana kita memiliki sidat rahmah sekalipun terhadap anak kecil.
Lalu lanjutan yang tadi adalah Iman sebelum Alquran. Ini saya dapat dari beberapa bacaan yang saya dapat. Maksudnya bagaimana kita mengajarkan iman terlebih dahulu, bagaimana kita menanamkan nilai iman terlebih dahulu sebelum kita mengajarkan Alquran, meminta anak kita membaca bahkan menghafal Alquran. Karena iman adalah pondasi utama. Jangan sampai kita lupaka itu. Boleh-boleh saja mengajarkan anak Alquran semenjak kecil, bahkan itu hal yang bagus, tapi yang utama dan pertama adalah penanaman nilai iman semenjak dini terhadap anak kita. Senada dengan apa yang dijelaskan ustadz Salim A. Fillah di atas.
Nah, yuk mari sama-sama yang sudah diberi amanah buah hati, segera tanamkan nilai-nilai tauhid dan keimanan pada diri anak-anak. Begitu juga buat para pengajar yang mempunyai anak didik. Semoga anak-anak kita menjadi generasi penerus yang membela Islam, yang membangun kembali peradaban Islam yang sudah lama tenggelam.


Surabaya, 2 Rajab 1439 H / 19 Maret 2018 M.

Komentar

Postingan Populer