Reward and Punishment
Salah satu
prinsip saya adalah “Reward and Punishment”. Berlaku untuk orang lain, terlebih
untuk diri sendiri. Sore ini, ketika saya sedang membuka laman akun facebook
saya, saya melihat update-an status salah satu dosen kami di kampus yang
mempunyai slogan ‘Dari Sini Pencerahan Bersemi’ ini. Sudah lama beliau tidak
mengajar kami, mungkin setahun lebih. Tak perlu saya sebut namanya mungkin
beberapa dari teman sudah tahu. Beliau tidaklah mempunyai background pendidikan
agama di bangku kuliahnya. Baik S1 atau S2-nya. Ketika mengajar pun beliau
tidak begitu mengenakkan, mungkin agak sedikit kaku dan boring. Tapi masalah
pergerakan, beliau ini seorang aktivis. Tidak hanya ketika duduk di bangku
kuliah dulu, beliau juga masih aktif sekarang dalam kegiatan mahasiswa walau
beliau sudah menjadi dosen. Pernah dulu ketika BEM mahad kami mengadakan acara
pelatihan kepemimpinan, beliau kita undang sebagai pemateri.
Kembali ke facebook,
beliau menuliskan tentang ucapak terima kasihnya karena civitas di fakultas
tempat beliau ‘berjuang’ sangat produktif dengan berbagai kegiatan yang sangat
padat, mulai dari kegiatan ORMAWA, BEM sampai kegiatan lembaga kampus yang
beliau aktif di salamnya. Beliau mengucapkan Jazakumullah khoiron katsiro
kepada semuanya yang ikut terlibat dalam acara-acara yang positif tersebut.
Saya jadi teringat bahwa beliau berusaha membangunkan fakultas yang ‘hampir
mati’ di kampus swasta ini. Beliau pernah bercerita di kelas bagaimana sejarah
beliau mulai dari pergerakan beliau selama menjadi mahasiswa ketika di kampus
dulu, sampai diminta ‘membangkitkan’ kembali salah satu fakultas di kampus ini.
Dan sepertinya ‘hasil perjuangan’beliau mulai terlihat. Barokallahu fiih.
Balik
ke status tadi. Ketika membaca status tadi, mendadak saya jadi sedih. Lho? Kenapa?
Sedih karena selama ini kalau kita mengadakan acara, nggak banyak disuport
pihak Ma’had apalagi kampus. “Reward” yang hanya berupa ucapan pun jarang kita
terima. “Ah, mungkin disinilah keikhlasan kita diuji” batinku. Saya juga
langsung teringat percakapan saya dan sahabat saya ketika di SMK dulu. Bahwa
selama ini orang tua saya tidak banyak perhatian terhadap akademik saya. Bahkan
ketika saya sempat mendapatkan rangking satu di kelas, respon orang tua
biasa-biasa saja. Begitu kataku terhadap temanku. Lalu beliau berkata bahwa tak
selamanya menunjukkan apresiasi di hadapanmu sebagai bentuk rewardnya
terhadapmu. Mungkin saja beliau sangat senang sekali tapi tidak menunjukkan di
hadapanmu. Rewardnya tidak bisa kamu lihat secara langsung dan instan. Rewardnya
dengan cara lain yang tidak kamu sadari. Langsung saya tersadar. Iya, benar apa
yang dikatakan Mas Hafidz terhadapku.
Benar memang beliau tidak menunjukan
apresiasi atau rewardnya langsung di hadapanku. Tapi mungkin “reward” beliau
terhadapku adalah doa-doa beliau di sepertiga malam terakhir untukku yang
tambah panjang dibanding sebelumnya. Mungkin reward beliau adalah lebih
memikirkan masa depanku nanti seperti apa. Mungkin reward beliau adalah hal-hal
baik lainnya yang tidak aku sadari. :)
Salam buat Mas
Hafidz, semoga sehat selalu. Semoga lain waktu bisa berjumpa.
Surabaya, 29
Jumadil Akhir 1439 H / 17 Maret 2018 M
Komentar
Posting Komentar